The Red Sleeve : Doekim dengan segala prinsipnya

Baru banget habis nonton drama saeguk yang berjudul the red sleeve, sengaja ga di tonton sampai episode 17 karena menurut gua cukup di 16 aja udah bikin gua sesek dada, ditambah dengan spoiler yang beredar di twitter bahwa episode 17 lebih banyak sad endingnya, mampus gasih tuh mata apa kabarnya.

sekarang gua bukan mau bahas review drama nya the red sleeve secara keseluruhan, ada satu hal yang selalu menganggu pikiran gua sama drama saeguk ini. jadi tokoh wanita utama drama ini adalah seorang dayang/pelayan istana, yaa kalian udah pada tau kan nanti akhirnya dia akan menjadi selir raja tapi tunggu dulu bukan hal itu yang mau gua pointed. sifat dayang ini tuh menurut gua out of the box pada jaman tersebut kenapa? karna di kisahnya dia adalah cewek yang pintar berkata-kata, cerdik, pemberani, independent, dan tentu saja sangat mencintai dirinya (hebat sih dia tau valuenya). menurut gua kenapa dia pintar ngomong ya karna dia penjaga perpustakaan dan sering disuruh menyalin buku kerajaan, salah satu faktornya sih.  dia selalu membantu putra mahkota disaat yang genting, muncul lah benih-benih cinta diantara mereka dan ketika putra mahkota naik takhta menjadi raja, doekim (nama dayangnya) ditawarkan untuk menjadi seorang selir. et et ternyata doekim orang yang berbeda, dia menolak untuk menjadi selir kerajaan, gils pada zaman tersebut ditawarkan menjadi selir oleh raja sendiri adalah salah satu kind of grace banget yang jarang didapatkan, biasanya selir itu diajukan oleh pejabat pemerintahan. nah doekim kok bisa nolak ya apalagi itu permohonannya langsung dari raja ya salah satunya bisa arti dari ungkapan perasaan raja ke doekim. alasan doekim menolak adalah ketika dia menjadi selir maka ada harus yang dibayar yaitu kebebasannya dia, karena doekim orangnya sangat menginginkan kebebasan terlebih lagi kata doekim walaupun dia juga mencintai raja tapi saat menjadi selir, raja bukan milik sepenuhnya. doekim berkata "ketika kita menyerahkan sepenuhnya milik kita, maka kita juga mengharapkan untuk menerima juga" nah maka dari itu doekim berpikir kalau dia menyerahkan sepenuhnya diri dia pada raja, dia juga mengharapkan sebaliknya sedangkan raja tuh gabisa dimiliki sepenuhnya. dia pun berkata lagi "kalau aku tidak bisa memiliki sepenuhnya, maka lebih baik aku tidak memiliki/mencintainya sama sekali sejak awal". dia akan kehilangan jati dirinya ketika menjadi selir. 

drama ini ngebawa perasaan gua campur aduk, jelas tentu saja air mata sering turun, bagaimana bisa dia berkonflik dengan perasaannya dan prinsip hidupnya. pilihannya sangat sulit, maka dari itu cinta bisa buat orang kuat tapi juga bisa sebaliknya, pisau untuk dirinya. yang gua liat dari drama, selir itu tidak boleh meninggalkan istana, gaboleh cemburu karna itu salah satu termasuk dosa bagi peraturan kerajaan. bayangin gaes sebagai wanita, jelas lah doekim menolak permintaan raja. ditambah dia sering bermain dengan teman-temannya, saat-saat bahagia dia adalah ketika dia tertawa/sedih bareng dengan temannya (sebenernya itu menggambarkan perasaan gua saat ini). pada saat itu juga wanita juga dianggap sebagai objek doang, apalagi selir sebagai alat politik partai-partai kerajaan. ternyata raja sangat menghargai perasaan doekim yang menolak permintaannya (big aplause buat raja jeongjo), kata gua mah raja juga nyesek sih ditolak wanita yang dia sukai (jelass)

dan plot twist nya adalah kisah ini based on true story gais, hahaha makin bawang gatuh. raja jeongjo menunggu 15 tahun untuk akhirnya doekim menerima menjadi selir (lamaran ke 3 baru diterima), dan menikmati pernikahannya hanya 5 tahun, karna selir doekim meninggal. setia banget rajanya. gimana ga bikin gamon setelah menghabiskan semua episode dramanya.

"aku membayangkan kalau aku bukan seorang dayang dan kamu bukan seorang raja, hanya orang biasa, mungkin tidak akan sesakit ini"
"kalau di kehidupan selanjutnya kau bertemu denganku kumohon abaikan saja, aku hanya ingin menjadi wanita biasa yang bahagia menikmati hidup" detik detik doekim meninggal.

kalau menilik dengan kehidupan masa modern ini gua berpikir ternyata sepertinya sama saja, ketika wanita itu menikah maka dia harus melepaskan kebebasan untuk hidup suaminya. mungkin ada beberapa yang tidak ya, ini lebih ke patriarki sih. pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar di kepala gua "gimana kalau gua dapet suami yang mengekang kebebasan, gimana kalau suami yang hanya ingin pendapat dia yang didengar?, dan gimana-gimana lainnya. doekim sangat merepresentatif kehidupan dewasa ini. maka dari itu nikmatin kebebasan yang kamu dapatkan sekarang dan mari mencintai diri sendiri.  tapi yang jelas prioritas gua sekarang adalah tuhan, keluarga dan diri sendiri, cukup nyaman untuk saat ini.

*btw sebenernya sekarang masih nyeseg gue, gara-gara drama ini doang.



Komentar

Postingan Populer